Sabtu, 11 Agustus 2007

Janganlah Mendekati ZINA (1)

(Bagian: 1 dari 4 tulisan)

Penyusun: Muhammad Umar Asseewed

Innal hamdalillah nahmaduhu ma nasta'inuhu wa nastaqfiru wa na'uzubillahi min syururi amfusina wa min sayyi'ati a'malina mayyahdillah fala mudillalah man yudlil fala hadiyalah, wa asyhadu allaillahaillallah wa asyhadu anna muhammad abduhu warasuluh wa ala alihi wa ashabihi wassalam tasliman kasyira, amma ba'du:

Saudara-saudaraku kaum muslimin
Sesungguhnya sudah jelas firman Allah dalam kitabNya dan sabda Rasulullah saw dalam Sunnahnya serta Ijma' para ulama tentang haramnya zina dan bahwasanya dia termasuk kekejian dan dosa besar.
Tapi...., kita mendapati banyak kaum muslimin yang terjerumus kedalam jurang kekejian ini, mereka mengikuti hawa nafsu dan syahwat mereka, lupa kepada Allah dan laranganNya, lupa kepada Rasulullah saw dan sabdanya, lupa kepada para Ulama dan nasihat-nasihatnya. Sebagian mereka berusaha menghalalkan zina dengan ta'wil-ta'wil yang bathil bahwa zina adalah perkosaan, sedangkan jika berdasarkan suka sama suka tidak mengapa...
Sebagian mereka bahkan berusaha menipu Allah, dan sesungguhnya mereka tidak menipu kecuali diri mereka sendiri, dengan berpura-pura menikah dan berperan seakan-akan suami isteri, padahal si wanita sudah punya suami di negrinya atau ditempat lain, dan yang pria hanya berniat memuaskan nafsunya unutk sementara waktu, naudzu billah. Atau mereka berdalil dengan ucapan orang-orang Syiah yang bathil tentang kawin mut'ah yang mana tidak lain adalah penghalalan zina dengan kedok agama !.
Sungguh benar ucapan Rasulullah saw.: "Pasti akan ada dari ummatku suatu kaum yang (berusaha) menghalalkan zina, sutra, khomer (minuman keras), dan alat-alat musik." (HR. Bukhori).

Saudara-saudaraku kaum muslimin,
Tidakkah anda ingat ucapan Allah Ta'ala dalam kitabNya yang mulia: "Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang jelek." (Q.S. Al Isra 32).
Dalam tafsir Kalamul Mannan, Syaikh Abdurrahman Nashir As Sa'di berkata: "Larangan Allah untuk mendekati zina itu lebih tegas darpada sekedar melarang perbuatannya, karena berarti Allah melarang semua yang menjurus kepada zina dan mengharamkan seluruh faktor-faktor yang mendorong kepadanya."Maka bisa saya katakan, kalau jalan-jalan dan faktor-faktor yang menuju kepadanya saja dilarang apalagi perbuatannya!.

Sungguh amat keji perbuatan itu dan sungguh amat benar ucapan Allah bahwa zina adalah Fahisyah yang dikatakan oleh Syaikh Abdurrahman pula dalam tafsirnya: "Al Fahisyah adalah sesuatu yang dianggap sangat jelek dan keji oleh Syari'at, oleh akal sehat dan fitrah manusia, karena mengadung pelanggaran terhadap hak Allah, hak wanita, hak keluarganya atau suaminya, dan merusak kehidupan rumah tangga serta tercampurnya (kacaunya) nasab keturunan." Dan sering sekali fahisyah didalam Al Qur'an ataupun Hadits dimaksudkan dengan zina.

(bersambung..)

Jumat, 10 Agustus 2007

4 Pertanyaan Di Padang Mahsyar (4)


Bagian 4 dari 4 tulisan)

Bismillahirrahmanirrahiim,
Dalam sebuah Haditsnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Salam bersabda: "Tidak bergeser kedua kaki seorang hamba (menuju batas shiratul mustaqim) sehingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, ilmunya untuk apa ia amalkan, hartanya dari mana dia peroleh dan kemana ia habiskan dan badannya untuk apa ia gunakan." (Hadist Shahih Riwayat At Tirmizi dan Ad Darimi)

4. Badan
Manusia merupakan mahluk yang paling sempurna diciptakan Alah di muka bumi ini. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Salam. Dengan kesempurnaan susunan tubuh serta akal fikiran yang diberikan Allah, manusia dijadikan sebagai khalifah d bumi, manusia dibebani taklif agar dapat melaksanakan fungsinya dengan baik. Jasmani manusia ini dituntut bekerja untuk melaksanakan fungsi khilafah dalam rangka mengabdi kepada Allah.

Letihnya manusia dalam melaksanakan ibadah kepada Allah akan diganjar dengan pahala. Tetapi bila letihnya dalam rangka bermain-main, mengerjakan maksiat, perbuatan sia-sia, beribadah dengan yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Salam, maka sia-sialah letihnya itu bahkan ada yang diganjar dengan api neraka, karena mereka termasuk orang-orang yang celaka. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Salam: " Tiap-tiap amal (pekerjaan) ada masa-masa semangat, tiap-tiap masa semangat ada masa lelahnya, maka barangsiapa lelah letihnya karena melaksanakan sunnahku, maka ia telah mendapatkan petunjuk, dan barangsiapa letihnya bukan karena melaksnakan sunnahku, maka dia termasuk orang yang binasa." (HR Al Hakim dan Al Baihaqi).

Demikianlah, pada hari mahsyar masing-masing manusia akan diminta pertanggungjawban atas segala perbuatan yang telah dikerjakannya selama hidupnya didunia. Sudah siapkah kita menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan kepada kita pada saat itu? Kalau belum kapan lagi kita mempersiapkan diri kalau tidak sekarang?. Bergegaslah sebelum maut menjemput kita, sebelum kiamat datang secara tiba-tiba.

Segala puji bagi Allah, Penguasa sekalian alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan atasNabi kita Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya serta pengikutnya. (Aas).

Ust. Yazid Abdul Qadir Jawas
Bulletin JDC Series on Islam,

Jeddah Dakwah Center
PO Box 6897 Jeddah 21452

Kamis, 09 Agustus 2007

4 Pertanyaan Di Padang Mahsyar (3)


(Bagian 3 dari 4 tulisan)

Bismillahirrahmanirrahiim,

Dalam sebuah Haditsnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Salam bersabda: "Tidak bergeser kedua kaki seorang hamba (menuju batas shiratul mustaqim) sehingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, ilmunya untuk apa ia amalkan, hartanya dari mana dia peroleh dan kemana ia habiskan dan badannya untuk apa ia gunakan." (Hadist Shahih Riwayat At Tirmizi dan Ad Darimi)

3. Harta
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda: " Bagi tiap-tiap umat itu fitnah dan sesungguhnya fitnah umatku adalah harta". (HR At Tirmidzi dan Hakim)
Harta pada hakikatnya adalah milik Allah. Harta adalah amanat Allah yang dilimpahkan kepada umat manusiaagar dia mencari harta itu dengan halal, menggunakan harta itu pada tempat yang telah ditetapkan oleh syariat Islam. Bila kita amati keadaan umat Islam saat ini, banyak kita dapati diantara mereka tidak lagi peduli dengan cara memperolah dan mengumpulkan hartanya, apakah dari jalan yang halal atau dari jalan yang haram. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah meramalkan hal ini dengan sabdanya: " Nanti akan datang satu masa; di masa itu manusia tidak peduli dari mana harta itu ia peroleh, apakah dari yang halal ataukah dari yang haram." (HR. Al Bukhari).
Setiap muslim harus hati-hati dalam mencari mata pencharian hidupnya karena banyak manusia yang terdesak masalah ekonomi lalu ia menjadi kalut hingga tidak peduli lagi harta itu dari mana ia peroleh. Ada yang memperoleh harta dari usaha-usaha yang batil, misalnya hutang tidak dibayar, korupsi, riba, merampok, berjudi dan lain sebagainya. Orang yang mencari usaha dari yang haram akan mendapat siksa dari Allah, seperti disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam: " Barangsiapa yang dagingnya tumbuh dari barang yang haram, maka Neraka itu lebih patut baginya (sebagai tempat)." (HR Al Hakim).
Harta yang kita dapat dengan cara yang halal harus pula kita infaqkan dan belanjakan pada jalan yang benar pula. Bila tadi disebutkan bahwa harta itu milik Allah, maka wajib pula kita gunakan harta itu untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini.
Di dalam Al Qur'an ada delapan golongan yang berhak mendapat zakat, yaitu para fuqara (orang fakir), masakin (orang miskin), amil (pengurus) zakat, mu'allaf (orang yang baru masuk Islam), untuk membebaskan budak, orang-orang yang berhutang, untuk perjuangan jalan Allah, dan orang yang sedang dalam perjalanan. Di masa-masa sekarang ini da beberapa kelompok yang masuk prioritas utama yang berhak mendapatkan infaq dan shadaqah, yaitu golongan fuqara (orang fakir), masakin dan orang yang berjuang di jalan Allah.
Orang fakir adalah orang yang butuh, tetapi tidak mempunyai pekerjaan sedangkan hidupnya digunakan unutk membantu agama Islam. Jadi orang fakir yang dibantu adalah orang yang memang hidupnya unutk berjuang di jalan Allah bukan pemalas yang tidak mau berusaha dan tidak melaksanakan syariat Islam. Sedangkan orang miskin adalah orang yang berusaha tetapi usahanya hanya mencukupi kebutuhan minimal dalam keluarganya untuk makan sehari-hari.

Ust. Yazid Abdul Qadir Jawas

Bulletin JDC Series on Islam,
Jedah Dakwah Center
Po Box 6897 Jeddah 21452

Rabu, 08 Agustus 2007

4 Pertanyaan Di Padang Mahsyar (2)


(Bagian 2 dari 4 tulisan)

Bismillahirrahmanirrahiim,
Dalam sebuah Haditsnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Salam bersabda: "Tidak bergeser kedua kaki seorang hamba (menuju batas shiratul mustaqim) sehingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, ilmunya untuk apa ia amalkan, hartanya dari mana dia peroleh dan kemana ia habiskan dan badannya untuk apa ia gunakan." (Hadist Shahih Riwayat At Tirmizi dan Ad Darimi)

2. Ilmu
Yang membedakan antara muslim dan kafir adalah ilmu dan amal. Orang muslim berbeda amaliahnya dengan orang kafir dalam segala hal, dari mulai kebersihan, berpakaian, berumah tangga, bermuamalah, dan lain-lain. Seorang muslim diperintahkan oleh Allah dan RasulNya agar menuntut ilmu. Allah berfirman:"Apakah sama orang tahu (berilmu) dengan yang tidak berilmu?" (Q.S. Az Zumar 9).
Ayat ini kendatipun berbentuk pertanyaan tetapi mengandung perintah untuk menuntut ilmu. Menuntut ilmu agama hukumnya wajib atas setiap individu muslim, mislnya tentang membersihkan najis, berwudhu yang benar, cara shalat yang benar dan hal-hal yang dilaksanakan setiap hari. Karena bila tidak tahu, mak amalannya akan tertolak, dan Allah akan bertanya kepadanya kenapa ia mengikuti apa yang ia ketahui, seperti dalam firmanNya:"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung jawabannya." (Q.S. Al Isra' : 36).
Ilmu yang sudah dipelajari umat Islam harus digunakan unutk kepentingan Islam dan kemaslahatan Umat Manusia. Ilmu yang sudah dituntut dan dipelajari wajib diamalkan menurut syariat Islam. Ilmu tidak akan berarti apa-apa dalam hidup dan kehidupan manusia kecuali bila manusia mengamalkannya. Rasulullah Shalllallahu 'Alaihi wa Salam bersabda: "Beramallah kamu (dengan ilmu yang ada) karena tiap-tiap oragn dimudahkan menurut apa-apa yang Allah ciptakan atasnya". (HR. Muslim).


Ust. Yazid Abdul Qadir Jawas
Bulletin JDC Series on Islam,
Jeddah Dakwah Center
PO Box 6897 Jeddah 21452

Selasa, 07 Agustus 2007

4 Pertanyaan di Padang Mahsyar (1)


(Bagian 1 dari 4 tulisan)

Bismillahirrahmanirrahiim,

Setiap muslim wajib mengimani Hari Akhir atau Hari Kiamat. Bahkan itu merupakan salah satu Rukun Iman yang lima. Didalam Al Qur'an dan Hadist diterangkan bahwa setelah dunia hancur, semua manusia yang di dalam kubur dibangkitkan dan semua akan dikumpulkan oleh Allah di Padang Mahsyar. Siapkah kita menghadapi peristiwa tersebut?
Pada saat itu manusia, kita ini akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah Ta'ala tentang segala macam yang telah kita lakukan selama hidup didunia yang fana ini. Pada hari itu tidak berguna harta, anak, tidak bermanfaat apa yang dibanggakan selama di dunia ini. Pada hari itu hanya ada penguasa tunggal yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberikan berbagai macam nikmat kepada manusia, kemudian Dia menyuruh menggunakan nikmat tersebut sebaik-baiknya dalam rangka mengabdi kepadaNya.
Karena Allah yang telah mengaruniakan nikmat-nikmat itu kepada manusia, maka sangat wajar apabila Ia menanyakan kepada manusia untuk apa nikmat-nikmat itu digunakan.

Dalam sebuah Haditsnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Salam bersabda: "Tidak bergeser kedua kaki seorang hamba (menuju batas shiratul mustaqim) sehingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, ilmunya untuk apa ia amalkan, hartanya dari mana dia peroleh dan kemana ia habiskan dan badannya untuk apa ia gunakan."
(Hadist Shahih Riwayat At Tirmizi dan Ad Darimi)

1. Umur
Umur adalah sesuatu yang tidak pernah lepas dari manusia. Bila kita berbicara umur, maka berarti kita berbicara tentang waktu. Allah dalam Al Qur'an telah bersumpah dengan waktu:"Demi masa", maksudnya agar manusia lebih memperhatikan waktu. Waktu yang diberikan Allah adalah 24 jam dalam sehari-semalam. Untuk apa kita gunakan waktu itu? Apakah waktu itu untuk beribadah atau untuk yang lain, yang sia-sia?
Diantara sebab-sebab kemunduran umat Islam ialah bahwa mereka tidak pandai menggunakan waktu unutk hal-hal yang bermanfaat, sebagian besar waktunya untuk bergurau, bercanda , ngobrol tentang hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan membawa kepada perdebatan yang tidak berarti dan pertikaian. Anak-anak, remaja dan orang tua senang nonton televisi sampai berjam-jam. Sementara orang-orang kafir menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya, sehingga mereka maju dalam berbagai bidang kehidupan dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Keadaan umat Islam saat ini sangat memprihatinkan. Ada diantara mereka yang tidak mengerti ajaran agamanya dan ada yang tidak mengerti ilmu pengetahuan umum. Bahkan ada diantara mereka yang buta huruf baca tulis Al Qur'an. Bila kita mau meningkatkan iman dan amal, maka seharusnyalah kita bertanya kepada diri masing-masing; Sudah berapa umur kita hari ini dan apa yang sudah kita ketahui tentang Islam, apa pula yang sudah kita amalkan dari ajaran Islam ini? Janganlah sampai kita termasuk orang yang merugi.

Ust. Yazid Abdul Qadir Jawas
Bulletin JDC Series on Islam,
Jeddah Dakwah Center
Po Box 6897 Jeddah 21452